Balada Pak Keling

May 28, 2007 by anangyb  
Filed under Renungan

Oleh Anang, yb

Tak disangka saya bertemu teman misdinar saya sewaktu masih di Bantul sana.

“Sst, panggil aku Pak Keling.” Katanya sambil tersenyum lebar. Ah, dasar orang ini. Baru saja saya mau menyapa dia dengan panggilan Eko Welut.

Saat itu kami bertemu di tempat orang pas-pasan dan tersisih biasa duduk manis di awal bulan, di depan loket BTN. Biasa lah. Membayar cicilan rumah.

“Kok ganti nama jadi Pak Keling?” tanya saya heran.

“Lho, gimana tho. Saya kan sekarang jadi ketua lingkungan hehehe” katanya sambil terkekeh. Oalah. Keling itu singkatan dari ketua-lingkungan tho.


Eko Welut jadi ketua lingkungan? Saya terkikik. Bener-bener ajaib.

“lho kok malah cengingisan tho mas?” tanyanya. “Ini karierku yang tertinggi lho. Ketua misdinar? Pernah. Ketua Remaja Katholik ? Pernah. Ketua Mudika? Belum sih, tapi waktu itu aku memang menolak kalau sekretarisnya bukan si Prapti.” Kata Pak Keling dengan kocak.

Saya ikut tertawa. “Iyalah. Tapi ada satu yang belum disebut!” kata saya buru-buru.

Pak Keling menoleh cepat. “Apa itu?”

“Jadi pemimpin redaksi majalah paroki yang paling dibenci dewan paroki. Dua kali disidang di depan romo dan akhirnya majalahnya dibredel tanpa ampun!” Hahaha… kami pun tertawa hingga membuat orang-orang yang antri di depan loket menoleh. Uup! Sori yeee.

***

Dalam gereja katholik yang terkenal dengan organisasinya yang dahsyat serta sistem struktur yang dipelihara berabad-abad, posisi ketua lingkungan berada di paling ujung, ujung satunya lagi yang jauh tak terlihat dipegang oleh Paus. Jadi, posisi ketua lingkungan jauh terletak di lapisan terendah.

“Aku menikmati jadi ketua lingkungan.” Kata Pak Keling dengan mimik serius. Saya menoleh tapi lebih baik tidak berkomentar.

“Dulu aku pikir seorang ketua lingkungan mustilah serba tahu, sukur-sukur setengah dewa. Hapal mulai dari doa pemberkatan rumah hingga pemberkatan jenazah. Bisa kotbah tentang zaman nabi Adam hingga zaman edan. Juga musti bisa menasehati cewek katholik yang hamil duluan, atau ibu-ibu yang ditinggal selingkuh suaminya.”

“Ujung-ujungnya kami mau ngomong kalau kamu belum bisa seperti itu?” sergah saya sok tahu.

Pak Keling tersenyum simpul. “Jujur saja. Kadang aku merasa terlalu muda untuk jadi ketua lingkungan.”

“Lho, tapi kamu kan tinggal di perumahan. Biasanya kan rata-rata penghunya ya seumuran semua.”

“Itu enaknya.” Timpal Pak Keling. “Karena rata-rata umurnya hampir sama, rasanya kok seperti jadi pengurus mudika. Jarang banget kami rapat. Paling banter kalau mau sembahyangan tinggal angkat telepon atau kirim SMS…”

“Tapi jujur saja, kadang aku merasa berdosa sama umatku.” Kata Pak Keling lagi.

Saya lagi-lagi cuma bisa menoleh, menatap wajah Pak Keling sambil mengernyitkan dahi.

“Aku ini Jarkoni”. Katanya. “Bisa berujar tapi tidak bisa melakoni” katanya lagi.

Saya tersenyum tipis. “Maksudmu kamu sering diminta kotbah dan sebetulnya apa yang kamu ucapkan saat kotbah itu bukan mencerminkan dirimu, gitu?” lagi-lagi saya berkomentar dengan nada sok tahu.

Pak Keling tersenyum tapi mimiknya tetap serius. “Buatku tidak susah mencari bahan kotbah. Sebanyak apapun. tema apapun. Internet menyala 24 jam di rumahku. Juga tidak soal bagaimana mengatur intonasi dan memasang mimik agar orang hanyut saat aku mengeluarkan kata-kata surgawi dari mulutku. Enam tahun aku ikut teater.” Papar Pak Keling. “Wajah polos umat dan kesantunan mereka saat mendengar kotbahku justeru membuatku sangat tidak nyaman”, keluhnya.

“Emang ngak ada orang lain yang bisa ngasih renungan selain kamu?” tanya saya.

“Ada sih. Malah ada dua eksim (eks seminari) di lingkunganku. Dan memang mereka yang jadi motor segala kegiatan rohani. Cuman toh mereka kan juga punya keluarga. Kebetulan juga mereka dua-duanya dari Medan jadi jadual arisan marga sudah penuh hingga setahun ke depan. Yah, sebagai ban serep, aku tetap harus siap bila sewaktu-waktu mereka pamit.”

***

Antrian di depan loket belum juga menyusut, jadi kami masih sempat melanjutkan obrolan.

“Semalem aku nggak tidur.” Kata Pak Keling.

“banyak nyamuk?” timpal saya bercanda.

“Umatku ada yang meninggal.” Sahut Pak Keling tanpa mempedulikan candaku yang asal loncat.

“Walah, itu kan biasa. Namanya juga ketua lingkungan. Musti paham gimana ngurus peti mati, nyari ambulan, memandikan mayat, pesen bunga, ngumpulin semua umat, ngumpulin tikar, cari pinjeman tenda, nyiapin sembanyangan…”sahut saya panjang lebar.

“Lha kalau itu sudah beres semua. Masalahnya adalah terjadi rebutan jenazah!”

Saya terkaget-kaget. Ini baru serius!

“Ayo cerita kayaknya menarik nih” kata saya penuh semangat.

Pak Keling geleng-geleng kepala memandang saya. “Lha kamu cuma melihat dari sisi serunya. Aku kebagian pusingnya..” Kata Pak Keling bersungut-sungut.

“Lha iya. Mangkanya ceritakan saja. Siapa tahu saya bisa membantu.” kata saya cuek.

“Yang meninggal, panggil saja Pak Ansel. Yang membedakan dia dengan umat lain adalah keikutsertaan dia dalam salah satu kelompok doa yang eksklusif”

“Semacam aliran sesat?” tanya saya buru-buru.

“Hush!” Bisik Pak Keling sambil mendelik.

“Yayaya.. teruskan ceritanya.” Kata saya buru-buru.

“Dia meninggal pas sedang berada di padepokan doa tersebut. Itulah awal masalahnya. Konon sebelum meninggal beliau sempat berpesan agar dikuburkan di padepokan. Sebaliknya pihak keluarga besar menghendaki agar jenazah dikubur di makam keluarga.”

“Lha gampang itu.” Sahut saya. “Bicarakan saja baik-baik nanti kan ada pemecahannya.”

Pak Keling memandang saya gregetan. “Lha kalau segampang itu, aku nggak pusing seperti sekarang.” Kata Pak Keling dengan nada tinggi.

“Sampai sekarang jenazah masih terkapar di padepokan. Pihak keluarga pun ogah menginjakkan kaki ke padepokan itu. Mereka menuding pihak padepokan punya andil dalam kematian Pak Ansel.”

“Maksudnya?”

“Kelompok itu semata-mata mengandalkan doa dalam mengejar kesembuhan. Mereka tidak pernah ke dokter.” Papar Pak Keling.

Saya manggut-manggut.

***

“Pak haji Kodrat…” tiba-tiba terdengar panggilan dari balik bilik loket.

Pak Keling beringsut dan kemudian berdiri, “Aku duluan ya. Sampai ketemu lagi kapan-kapan.”

emangnya dia sudah dipanggil?

“Lho kan belum selesai ceritanya tadi?” sahut saya setengah berteriak.

“Lha memang belum ada penyelesaiannya kok” kata Pak Keling kalem.

Saya cuma bisa terbengong-bengong.

Sayup-sayup saya mendengar Pak Keling berbicara dengan petugas di balik bilik loket.

“Saya Kodrat, bu. Tapi saya bukan haji. Huruf ha disitu singkatan dari Heribertus….”

(cerita tamat sampai di sini. Tapi rasa pusing Pak Keling belum akan berakhir hingga tiga tahun masa tugasnya sebagai ketua lingkungan berakhir.)

Popularity: 24% [?]

  • Winsor Pilates

Comments

5 Responses to “Balada Pak Keling”
  1. Nenot says:

    Orang bekerja diladang Tuhan memang melelahkan, memusingkan dan tidak dibayar. Ia pun terpilih bukan berarti dia suci, pintar, bisa berkotbah, orang kaya, mantan seminari dll.
    Ia dipilih bekerja diladang Tuhan karena memiliki :
    1. Kemauan yang tulus tanpa pamrih.(keinginan Daging/Duniawi), tanpa
    memandang jabatan itu rendah atau tidak.
    2. Semangat melayani orang banyak tanpa memandang suku, agama, gol.
    dengan adil.
    3. Ketegaran hati.(jika sudah bekerja sosial masih ada orang yg mencela)
    Saya yakini ” Pekerjaan yg kecil dimata manusia tapi besar di mata Allah” jadi walau kita hanya sebagai pengantar Undangan Ibadat saja itu adalah pekerjaan yang luar biasa dimata Allah.
    Do’a : Semoga Allah memberikan semangat dan kemauan yang tulus dlm diri
    kita.
    Semoga Allah menyembuhkan hati yang sakit dan menderita.Amin

  2. Budi says:

    Mohon maaf untuk komentarnya Pak Nenot…

    Idealnya (sekali lagi, “idealnya”) pekerja Tuhan memang seperti yang Pak Nenot jabarkan. Tapi manusia ada banyak, dan sedemikian banyak pulalah motifnya…

    Kenyataan banyak juga pekerja Tuhan, semisal seperti cerita di atas yang melayani seolah “seadanya”… Akibatnya banyak lingkungan yang vacuum kegiatan, bahkan mengurusin surat izin (krisma, perkawinan, KK) saja susahnya minta ampun (semoga tidak terjadi pada Anda).

    Kayanya emang benar, “Kita tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

    Terima kasih.

  3. Jen says:

    Semangat Ora Et Labora. Jadilah anak-anak terang. Bung Anang, I thank you for being a candle to the world. Juga buat Pak Keling dan rekan-rekan lainnya. God bless.

  4. Nenot says:

    Salam sejahtera tuk Pak Budi dan seluruh pembaca..
    Pak Budi kita harus tetap mengabdi pd Allah, memang sebagai pekerja Tuhan ya..tetap manusia biasa tapi kehadiran Jesus membentuk manusia yg luar biasa. Paus,Uskup,Pastur,Diakon dan pekerja Tuhan lainnya mungkin tidak tembus dengan kekuatan santet atau ilmu hitam/Iblis tapi mereka dapat tergoda oleh roh penyesatan. Jadi sulitnya membuat KK, surat izin lainya atau vacumnya kegiatan ling. jangan mencari siapa yg salah, karena hal itu secara tidak sadar adalah roh penyesatan. sayapun pernah merasakan dan menyalahkan orang lain tapi saya disadarkan. Seperti pengurusan kematian warga yang tdk punya St.Yusuf, gereja tdk bisa berbuat apa-apa.Tapi karena tuntunan Roh Kudus Warga Lingkungan mengumpulkan dana untuk warga tsb.

Trackbacks

Check out what others are saying about this post...
  1. [...] diriku? Setidaknya siapakah diriku hingga kau pakai untuk memimpin beberapa umatMu sebagai seorang ketua lingkungan? Tak henti kulantunkan lagu ini sebagai luapan tanya tak berujung: “hanya debulah aku.. di alas [...]



Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!