Tuhan itu Hidup
Sofi adalah seorang ibu muda. Pukul 17 wib, 14 Juni 2008 dia dibawa ke balai pengobatan baktiwara Koba Bangka karena dia sudah mau melahirkan. Suami mondar-mandir di depan pintu ruang bersalin. Wajah mama kandung Sofi sedikit pucat. Beberapa sahabat menunggu dengan cemas. Tetes-tetes keringat sang bidan mulai mengucur. Seluruh keahlian dikerahkan untuk membantu proses kelahiran Sofi. Seakan anak dalam kandungan masih tetap mau tinggal dalam rahim ibu. Mungkin dia lebih tenang di dalam daripada di luar dunia.
Saudari Elisabet Chin-chin sahabat Sofi menelpon seorang imam di jalan Batu Kadera XXI N0 545 A Pangkalpinang 33147. “Pastor tolong doakan sofi. Lapisan demi lapisan sudah dilalui. Bidan berpengalaman belum juga mampu membantu mengeluarkan bayi dalam rahim Sofi. Mohon doa dari pastor! Doa pastor khan manjur!”
Kepala pastor manggut-manggut. Orang mau melahirkan minta tolong seorang imam. Mungkin Sofi terlalu tegang pada saat dia mau melahirkan anak pertama. Mungkin rasa tegang tersebut membuat dia susah melahirkan. Langkah tepat untuk membantunya adalah menghantar dia rileks. “Ambillah air suci. Buatlah tanda salib di kedua telap kaki, kedua telapak tangan, dan di dahi. Setiap membuat tanda salib sambil mengucapkan dalam nama Bapa dan putera dan roh kudus. Amen. Usaplah jidat Sofi dengan air suci!”
Saudari Chin-chin lari meninggalkan Sofi untuk mencari air suci. Beberapa menit kemudian dia sudah kembali di samping Sofi dengan membawa air suci. Sebelum ia melakukan ritus yang dianjurkan oleh sang pastor dia berujar,” Sofi, ini pastor Titus Budiyanto memintamu tenang! Pastor menyuruh saya mengoleskan air suci di kedua telapak kaki, kedua telapak tangan dan dahimu dalam nama bapa dan putera dan roh kudus.”
Beberapa menit selesai mengoleskan air suci di kedua telapak tangan, kedua telapak kaki, dan dahi anak dalam rahim terhempas. Dia melahirkan seorang anak lelaki. Bayi itu menangis seperti memprotes keadaan,”mengapa engkau melahirkan aku ke dunia?”
Betapa bahagia Sofi sekeluarga. Bagi Elisabet Chin-chin pengalaman ini luar biasa. “pada saat saya melakukan ritus tersebut seperti bukan saya yang bekerja. Saya merasa sangat tenang sekali Saya percaya bahwa Tuhan hadir. Tuhan bekerja pada saat genting. Di sini saya diingatkan bahwa Tuhan memang ada. Dia menyelamatkan Sofi dan anaknya. Proses kelahiran merupakan taruhan hidup dan mati anak – ibu.”
Tuhan ribuan tahun lalu hidup untuk menyembuhkan, mewartakan kerajaan Allah agar manusia selamat di dunia. Sekarang pun Tuhan juga masih hidup. Yang akan datang pun Tuhan juga hidup berkarya menyelamatkan dunia. (Titus budiyanto)
Popularity: 26% [?]


waktu aq melahirkan anakku yg pertama…ribuan kali salam maria sudah terucap…kalo bunda maria bilang bosaaaaann….ato pusiiiiiiinngg………bisa aja…
tapi ngga tuh…aq yakin bunda maria & Yesus ada di sisi kiri & kanan mengapit aq, memegang tanganku, mengusap kepalaku…
ga ada jeritan dari mulutku…aq menikmati semua sakit itu…
sampai2 dokter & susternya bingung….krn sebangsal itu ada sekitar 4-5 ibu yg akan melahirkan…semuanya menjerit…
yg kuucapkan terus menerus hanyalah salam maria
ibuku nangis…aq bilang knp nangis, aq baik2 aja…
suamiku setia disampingku..
sampai anakku lahir….
bu, anaknya sudah lahir….jagoan….eh langsung pipis…..hebat anak ini loh… gitu kata dokterku….
Puji Tuhan…Terima Kasih Tuhan…Terima Kasih Bunda Maria…
aq lgs tertidur…kecapean….pasrah mau diapain aja sama suster & dokternya…
yg paling penting anakku udah lahir…sehat…ganteng…lengkap…Puji Tuhan…Amin…