Manakah Prioritasku?

April 30, 2007 by blasius  
Filed under Renungan

Jauh lebih penting tepat waktu untuk datang di stasiun supaya tidak ketinggalan kereta api! Namun tidak jadi soal, terlambat datang misa daripada tidak datang sama sekali!
 
Jauh lebih penting memberikan “amplop” kepada pasangan manten yang mengundang pesta. Untuk apa kita memberikan dana bagi orang miskin, bukankah mereka miskin karena kesalahannya sendiri?
 
Lebih mengharukan nonton sinetron, daripada mendengarkan kotbah seorang imam, daripada mendengarkan kotbah imam yang membosankan dan kadang-kadang menjadi pengantar ngantuk.
 
Lebih mudah untuk menghitung-hitung kesalahan dan dosa orang lain, namun betapa sulit untuk menghitung-hitung dosa sendiri, Padahal doanya selalu memohon, “Janganlah memperhitungkan dosa kami ya Tuhan, tapi perhatikanlah iman Gereja-Mu”.
 
Begitu cepatnya orang bereaksi negatif atas informasi yang dilihat, dibaca dan didengarkan, namun betapa sulit orang menjadi proaktif dan cepat melihat sisi positif dari sebuah informasi “yang mengganggu sekalipun?”
 
Seperti dengan remote control, orang mudah mengganti “channel TV”, demikianlah juga orang mudah berganti-ganti relasi kalau tidak memberikan manfaat dan kepuasan batin.
 
Semoga hari ini menjadi hari terindah untuk hidup penuh harapan, berani bangkit dari kelemahan karena Tuhan yang bangkit percaya dan menaruh harapan kepada kita, bahwa manusia  mampu berubah dan berkembang seturut kehendak-Nya.
 

Popularity: 6% [?]

  • Winsor Pilates

Comments

4 Responses to “Manakah Prioritasku?”
  1. Saya rasa Mind Set yang di tanamkan sejak kecil adalah penyebab utama dari penentuan prioritas kita. Jadi agak sulit untuk merubah saat kita sudah dewasa. Kesempatan kita adalah membenahi Penanaman Mindset pada Generasi penerus kita. Salam.

  2. Blasius Slamet Lasmunadi Pr says:

    Dear Yudhi, terima kasih commentarmu. Menurut analisa saya, mind-set itu mesti mulai “didekonstruksi” lagi saat calon pasutri mengikuti kursus persiapan perkawinan. Kursus itu kerap kali tidak menawarkan sebuah cara membuat prioritas dalam pengalambilan keputusan hidup namun penuh dengan muatan nasihat yang kerap kali “out of date”. Di lain kesempatan saya akan sedikit demi sedikit menulis beberapa artikel tentang “dekonstruksi” paradigma dalam relasi suami isteri,orang tua dan anak.

  3. Saya sependapat dengan Romo Blasius. Sekitar setahun yang lalu saya mengikuti KUPERPER. Sebagian besar isi materinya adalah masalah Biologis, baik bagi pasangan maupun bagi kelahiran calon anak. Bagaimana membina hubungan yang baik dengan pasangan dan bagaimana metode pendidikan bagi calon anak, hanya di utarakan lewat pengalaman yang diutarakan oleh tokoh yang dianggap mapan keluarganya. Jika Pendidikan yang akan di berikan kepada anak pasutri baru adalah warisan dari pasangan yang terdahulu maka, tradisi akan berlanjut. kita tidak akan pernah bergerak dari satu titik. hanya berdiam di tempat, karena yang kita jalani hanyalah contoh dari kehidupan yang terdahulu saja. terimakasih. Salam.

  4. Gunawan says:

    Setuju sekali

    Dimana anak akan tumbuh dan berkembang baik itu bagus maupun buruk,

    Ada yang mengatakan:
    Hal ini berawal dari pendidikan semenjak anak itu lahir dan menghirup udara di bumi ini.

    Ada yang mengatakan :
    Hal ini berawal dari pendidikan dari orang tua mereka dan lingkungan disekitar ia berada.

    Ada yang Mengatakan :
    Bahwa sifat baik atau buruk adalah faktor keturunan Ibu bapanya,
    Anaknya baik makan orang tuanya juga baik dan sebaliknya

    Memang ituada benarnya juga, tapi sesungguhnya, sifat anak terbentuk ketika,
    sang sperma dan sang indung telur bersatu, dimana disanalah dimulainya penanaman sifat dan watak perilaku.

    dimana sang ibu saat mengandung haruslah dalam suasana santai tak tertekan, terlindungi, cukup gizi jasmani, cukup istirahat, olah raga dan doa

    sadar tidak sadar sumber kehidupan tersebut terserap di dalam memori sang bibit, sehingga tak salah bila ibu tertekan makan anak tersebut akan lahir dalam ketakutan, pendiam, dll

    anak akan damai dan ceria bila sang bunda yang mengandung juga dalam damai.

    Hal ini semua adalah proses kehidupan
    Hanya Pada Nya kita memohon bimbingan dan perlindunganya,
    semoga kelak anak kita menjadi teladan dan damai bagi Nama Nya

    Tuhan sertamu selalu

    Salam hangat

    Gunawan

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!