Agu 21

Bagi orang Khatolik kata-kata diatas ini pasti sudah sangat kita kenal, karena kata-kata ini salah satu bagian dari doa yang sangat agung yang Tuhan ajarkan kepada para rasul juga kepada kita semua yaitu doa “Bapa Kami”.

Diatas bumi seperti didalam “surga”adalah suatu tempat dengan keadaan atau suasana yang bahagia secara illahi yaitu Damai.

Tidak ada penderitaan,tidak ada kesedihan,tidak ada amarah,benci,dendam,dll. Damai abadi selamanya kekal. Surga adalah rumah Bapa Tuha kita Yesus Kristus. Sedangkan Bumi tempat kita hidup dan tempat kita tinggal saat ini adalah suatu tempat dengan segudang masalah,segudang penderitaan, gudang problema yang sering ditimbulkan oleh manusia itu sendiri, karna ego, kedagingan, cinta diri sendiri. Sehingga diantara sesama saling membenci, saling menghukum, saling menghujat, bahkan tega saling menghakimi dan membunuh seperti yang terjadi saat ini diatas bumi tercinta ini.

Belum lagi penderitaan karna tekanan ekonomi, yang disebabkan kemiskinan, bisnis bangkrut, terlilit hutang. Sehingga mengalami depresi, stress, putus asa karna tidak tau jalan keluar untuk menyelesaikan semua masalah akhirnya mengambil jalan pintas Bunuh diri atau memilih jalan lain yang tidak berkenan pada Allah.

Dengan semua masalah seperti diatas ini apakah kita dapat merasakan Diatas bumi seperti didalam surga?

Continue reading »

written by Yudhi Arie Baskoro \\ tags: ,

Jun 27

“Salam Damai Kristus”

Kemajuan teknologi sangat berpengaruh besar di Dunia ini.Semakin berkembang nya teknologi juga semakin banyak juga ahli di bidang Komunikasi mencari cara untuk memudahkan orang untuk berkomunikasi. Zaman kita ini sudah sangat maju dalam hal komunikasi apalagi terciptanya sarana telekomunikasi yang bisa di gunakan sekalipun itu jarak jauh. sebut saja “Handphone”, seluruh Dunia sudah memakai alat ini, alat yang mudah di bawa kemana-man ini juga berpengaruh besar dalam, entah itu bisnis,pribadi,keluarga dan masih banyak lagi fungsi dari alat ini.

Singkat cerita..
Zaman Kakek saya dulu kalau mau mengikuti MISA pada hari minggu itu kita harus berpuasa 1 malam agar besok pagi  kita bisa mengikuti MISA, nah klo di zaman kita sekarang ini sudah di mudahkan yaitu 1 jam sebelum misa eh … malah 1 jam sebelum Komuni deng… kita tidak boleh melakukan kegiatan apapun di luar dari kegiatan MISA ( ex: makan,minum,ngobrol,merokok,dll ). kebayang gak sudah begitu mudahnya kita di tuntut untuk meluangkan 1-2 jam untuk mengucap Syukur kepada TUHAN di hari minggu dan kita punya 6 hari untuk melakukan kegiatan di luar MISA. tapi mengapa kita malah sering menyakiti Hati TUHAN? kenapa? di dalam gereja kita masih sering makan2,ngobrol dengan teman2,yang parahnya lagi kita menerima telpon atau sms an di dalam gereja disaat MISA berlangsung dan para umat lain sendang Berdoa Kepada TUHAN? pernahkah di benah anda bahwa hal seperti itu akan membuat TUHAN marah??

nah saya ingin kan pendapat dari rekan2 wartakasih, Bagaimana cara mengatasi hal-hal seperti di atas?

terima kasih….kita tunggu tanggapannya…..

written by leorius

Mei 07

Hingga kini, nestapa masih menyelimuti ribuan korban lumpur panas Lapindo, gempa Yogya, Nias, musibah Kapal Senopati, AdamAir, dan GIA. Masih adakah harapan di balik derita ini?Ternyata, akumulasi pengalaman traumatik membuahkan frustrasi sosial berlarut. Gejolak emosi korban musibah sering instabil, cepat meletup, dan tak terkendali. Setiap saat, kekecewaan sosial ini dapat memancing perilaku brutal. Kenyamanan hidup sirna. Kapan dan bagaimanakah mereka bisa menormalisasi irama kehidupan?

Cepat atau lambat, frustrasi ini menyengsarakan. Rasa waswas dan takut masih muncul kala ingin bepergian dengan kereta api, kapal laut, dan pesawat terbang. Rasa takut berlebihan berupa pesimisme berat bisa membuat seseorang berputus asa. Bayangkan, akibat depresi berat, seorang ibu tega meracuni anaknya sendiri. Bawahan berani tembak atasan (bdk I Wilkinson).

Penderitaan ini bisa menggiring anak-anak bangsa ke era “neokolonialisme” yang tidak pernah serius mengurus kesejahteraan rakyat. Kekacauan dan ketidakpastian sosial ini menuntun anak-anak bangsa memasuki zona Sodom dan Gomora. Hidup tanpa masa depan. Bagaimana menyikapi penderitaan ini?

Continue reading »

written by WK